Langsung ke konten utama

Postingan

Malam

Ada yang sesak disini Selayaknya bintang namun berduri Mematulkan bias cahaya namun menyilaukan Sesak, rongga rongga yang kian menyempit Tak ubah udara enggan melewatinya Menolak untuk dihirup Berkata bahwa jangan menyesal untuk cerita yang telah ditulis Satu, semua terasa sama. Seperti selayaknya waktu dia tak pernah behenti untuk berganti Ya seperti nama aku yang berada pada hati orang orang. Akan bergeser dan berganti Malang, 3 Juli 2019
Postingan terbaru

Bunga yang kembali merekah

Bunga yang Kembali Merekah Setetes air mengenai pipiku. Ditambah lagi tetes dari langit, tentangnya yang berwarna kelabu. Kemudian menyusul tetesan dari pipi yang lain. Kini keduanya berlomba untuk membasahi sekujur pipiku kemudian seluruh kerudungku. Tak khayal warna yang ku kenakan sama rupa dengan mendung kali ini, kelabu. Warna mendung di rintikan hujan, pun dengan mendung rintikan hati yang menjalar ke air mata. Balutan kain menjulur di kepala basah karenya. Dengan syal penghangat Gerimis ini mengundang dingin. Aku memerlukan kehangatan yang harus mendesakku mencari tangan yang siap ku genggam. Mencari bahu yang siap ku sandarkan. Mencari pundak yang siap basah karena air mataku. Sepasang kaki ini masih berjalan menerobos gerimis di sorotan lampu cahaya yang menyala berwarna merah. dia terus berjalan membawa sang pemilik raga menelusuri jalanan taman kota. Aku pun tak membantah kemana kakiku akan membawa pergi. Dia terus berjalan seirama dengan air mata yang bercampur gerimis tu...

Angin musim gugur

Angin Musin Gugur Dia berdesir lembut, berbisik halus ditelingaku. Aku mendengarnya, kemudian dia berlari menjauh bahkan tak ku temukan wujudnya lagi. Inilah angin, wujud sepi yang bertegur sapa denganku di tempat ini.. Bahkan cukup membuat ranting-ranting itu tumbang, jatuh bertabrakan dengan tanah, kemudian angin membawanya terbang lagi. Angin ini cukup mengguncangkan rambutku, setidaknya lebih dari tiga kali aku menyapunya dari wajah. Cukuplah untuk membuat apa yang kulihat nampak jelas walaupun aku tak tahu pasti apa yang sedang ku lihat. Terlalu banyak gambar-gambar yang menyita perhatianku. Kota menjulang itu cukup menyita perhatian kurasa, melirik lagi masa lampau yang kutitik disana yang kulihat dari sebuah kursi lantai lima ini. Kantung mataku cukup sayu untuk melihat jarak kota yang menjulang jika tak kupakaikan sebingkai lensa yang menggantung. Tapi angin itu tak cukup mampu menerbangkan amplop coklat berornamen merah yang kupegang erat. Ah tenggorokanku rasanya panas....