Langsung ke konten utama

Angin musim gugur

Angin Musin Gugur
Dia berdesir lembut, berbisik halus ditelingaku. Aku mendengarnya, kemudian dia berlari menjauh bahkan tak ku temukan wujudnya lagi. Inilah angin, wujud sepi yang bertegur sapa denganku di tempat ini.. Bahkan cukup membuat ranting-ranting itu tumbang, jatuh bertabrakan dengan tanah, kemudian angin membawanya terbang lagi.
Angin ini cukup mengguncangkan rambutku, setidaknya lebih dari tiga kali aku menyapunya dari wajah. Cukuplah untuk membuat apa yang kulihat nampak jelas walaupun aku tak tahu pasti apa yang sedang ku lihat. Terlalu banyak gambar-gambar yang menyita perhatianku. Kota menjulang itu cukup menyita perhatian kurasa, melirik lagi masa lampau yang kutitik disana yang kulihat dari sebuah kursi lantai lima ini. Kantung mataku cukup sayu untuk melihat jarak kota yang menjulang jika tak kupakaikan sebingkai lensa yang menggantung. Tapi angin itu tak cukup mampu menerbangkan amplop coklat berornamen merah yang kupegang erat.
Ah tenggorokanku rasanya panas. Ada sebongkah bola api berputar putar disana. Dia membuat malamku merasa tak nyenyak. Bola api yang tergeletak di tenggorokanku itu berhasil membuat aku menjadi manusia insomnia semalaman ini. rasanya ingin kusiram dengan seguyur air danau pinggir kota itu. Gila, pagiku pun tak kunjung usai dibuat tak nyenyak olehnya. Hujan cukup lebat disana, tapi tetap saja ruang hampa yang berada di leher ini tetap berapi-api.
“Bangun Lal,” sesok paruh baya itu membuka pintu kamar setengah membuka. Bayangannya mulai terbentuk dari siluetan lampu ruang tamu.
Ah aku masih dengan posisi nyamanku menjadi manusia kasur. Aku melihatnya dari mata setengah sayu yang sedikit usaha untuk membuka sepenuhnya.
“Iya,” jawabku lesu.
“Kupastikan Ibu melihatmu di meja makan 30 menit lagi,” bayangannya menghilang dari balik pintu setengah terbuka itu.
Sebuah tombol aku pencet dari tombol ponsel. Kemudian seberkas cahaya muncul menyilaukan mata. Silauannya menerangi seluruh penjuru kamar karena sedikitpun belum terbuka korden jendala berwarna peach dengan ornamen bunga dandelion.
“Gila”
Belum genap nyawaku tertata, kaki ini sudah melangkah turun menemukan sepasang alas kaki. Tanganku bergerak merambah meja menemukan benda bulat. Mengusap-usap mata agar lebih jelas pandanganku. Jarum pendek tak sempurna mengarah ke angka lima dan jarum berujung panjang tepat sekali mengarah ke angka tiga.
“Ibu mau kemana pagi pagi begini”
“Sudahlan jalan yang benar,” ucapnya cukup keras yang melirih termakan oleh angin yang kita lalu, juga helm yang melilit kepalaku. Dari spion kiriku aku melihat bibirnya menyunggingkan senyum. Dia cantik dan manis. Laki laki mana yang tak melirik senyum dengan lesung pipi itu. Yah walaupun keturunannya ini tak semanis senyum itu. Orang bilang garis pipi senyumku jelas lebih mirip ayah daripada Ibu. Ah, padahal aku ingin dikatakan manis seperti orang lain mengatakannya kepada Ibu
“Brakkkkkkkkkkkk”
Mataku tak mampu lagi untuk membuka. Hitam, langit biru itu menghitam. Aku tak dapat lagi mendengar suara bising kendaraan-kendaraan. Telingaku terkunci. Terakhir kulihat banyak langkah kaki menghapiriku. Ku dengar hentakan itu terdengar keras melirih ke arahku . Lalu semuanya menghitan. Dan kini kudapati diriku berada pada ruangan dengan tirai putih. Sebuah bantal panjang yang biasa kugunakan tidur berada di atas kepalaku. Aku merasakan hangat dari balik telapak tanganku. Kemudian kugenggam erat kehangatan itu
“Ayah, ini bukan kamarku” gumanku heran karena mataku melihat korden yang tak biasa ku lihat di kamark
“Ilal, syukurlah kamu terbangun” ucap Ayah tak lupa dengan senyum yang dikatakan orang mirip denganku
Kursi kayu khas Jawa dengan plitur yang mengkilat tengah kududuki. Kepalaku kusandarkan tepat pada bingkainya yang empuk tapi padat. Mulai kupejamkan mataku perlahan. Serangkaian gambar-gambar satu persatu terlihat. Ketika senyum manis yang ku lihat dari spion. Bayangan dari pintu kamar yang setiap pagi membangunkanku. Semuaya tergambar jelas di ruang hitam itu. Kemudian aku tersadar oleh hentakan kaki yang perlahan mendekatiku. Dia mengambil posisi yang nyaman. Hembusan nafasnya terdengar sangat jelas ketika akan mengawali pembicaraan. Kepalaku masih bersandar, mungkin rambut kucalku cukup sukses menjadi perhatiannya. Tanganku ku pegangkan erat pada lengan kursi dengan menghela nafas perlahan. Kami cukup canggung. Aku mengawali pembicaraan
“Ayah, seminggu berlalu setelah kita menghantarkan Ibu ke semayaman terakhirnya”
“Ilal, ayah tahu dadamu cukup sesak mengenang semua kejadian itu. Tapi kepalamu tak wujud hanya untuk memutar tragedi itu. Ikhlaskan sajalah. Ayah juga begitu. Nafas ayah serasa sesak setelah kepulangannya.”
“Sial, andaikan saja wanita itu tak sembarangan lewat di depanku. Dan aku tak perlu membanting setir dan menabrak pohon besar itu”
“Hei, ada apa denganmu? Dimana anak ayah yang tegas dan berhati baja. Beruntunglah kamu tak apa Ilal”
“Putra siapa yang yang tak bersesak dada jika iamembunuh ibunya sndiri”
“Bukan Ilal. Ini sudah digariskan”
Kami menghela nafas bersamaan. Aku tak tahu lagi semacam apa hidupku. Bahkan nasi yang serupa bubur pun tak tertelan di tenggorokanku. Runyam
“Ilal, sebelum kepulangan ibumu di rumah sakit dia sempat menitipkan sesuatu untukmu yang lama tak sadarkan diri. Dia selalu ingin menemuimu dengan keadaannya yang buruk. Namun takdir berkata lain” ucap ayah
aku mulai duduk tegap dengan tangan yang semakin kueratkan
“Ini untukmu” ayah menyerahkan sebuah amplop coklat dengan tulisan manis di sudutnya “Untuk Ilal, putraku tercinta”
Dingin. Kota yang menjulang itu menjadi pusat perhatianku sekarang. Hatiku berbinar binar. Setelah dua tahun lalu aku menangis pilu. Sosok tegas dan berhati baja kembali menjiwa di tubuh kokoh ini. senyumku semakin melebar dnegan amplop bertuliskan namaku itu. Perlahan ku buka kembali tulisan yang sempat ku bca bersma ayah di ruang tamu rumah kita
Ilal, putra tersayang ibu. Ibu sudah mendapatimu menjadi pria yang tampan dan manis. Tapi, manjamu membuat ibu terlalu menyayangimu. Ilal, putra ibu tersayang jadilah lelaki yang cerdas nak. ibu ingin melihatmu sebagai penolong ibu. Jadilah putra ibu yang dibanggakan semua orang. Merantaulah nak di negara kuasa. Dapatkanlah ilmu yang tak kamu dapatkan disini. Jadilah anak ibu yang namanya tersohor di penjuru dunia

Salam manis dari ibumu
Senyumku masih tidak terlepas dari bibir. Di balkon ini aku benar benar menyaksikan diriku berada gembira. Jerman musim ini menggugurkan daun dan ranting yang cukup banyak. Menggugurkan cerita sedih masa lalu. Aku telah merantau, Bu, mengelilingi benua Eropa yang kata orang gudangnya pengetahuan. Aku telah meyematkan namaku pada setiap orang yang ku berikan sedikit uluran tanganku. Aku sudah merantau, Bu. Menjadi mahasiswa yang ibu inginkan. Senyumku untuk Tuhan yang telah menciptakan skenario terbaik untukku.

Bogor, 2016
Asrama PPKU IPB Dramaga

Komentar