Bunga yang Kembali Merekah
Setetes air mengenai pipiku. Ditambah lagi tetes dari langit, tentangnya yang berwarna kelabu. Kemudian menyusul tetesan dari pipi yang lain. Kini keduanya berlomba untuk membasahi sekujur pipiku kemudian seluruh kerudungku. Tak khayal warna yang ku kenakan sama rupa dengan mendung kali ini, kelabu. Warna mendung di rintikan hujan, pun dengan mendung rintikan hati yang menjalar ke air mata. Balutan kain menjulur di kepala basah karenya. Dengan syal penghangat
Gerimis ini mengundang dingin. Aku memerlukan kehangatan yang harus mendesakku mencari tangan yang siap ku genggam. Mencari bahu yang siap ku sandarkan. Mencari pundak yang siap basah karena air mataku. Sepasang kaki ini masih berjalan menerobos gerimis di sorotan lampu cahaya yang menyala berwarna merah. dia terus berjalan membawa sang pemilik raga menelusuri jalanan taman kota. Aku pun tak membantah kemana kakiku akan membawa pergi. Dia terus berjalan seirama dengan air mata yang bercampur gerimis turun dari kelabu yang sama.
Aku punya otak tapi aku tak punya akal. Aku punya akal tapi tak bisa bekerja sempurna. Bukan kepintaran yang aku maksud. Aku cukup beradu jika mengenal kepandaian. Angka huruf sudah merunyam di otakku. Tak perlu semua mempermasalahkan aku dapat mengeja perhitungan sains. Semua akan terjawab dengan tepat bahkan aku pun tidak menyangka semua itu berasal darimana. Gen apa yang dibawa Umi sampai kecepatan otakku bisa mengenal ilmiah yang dikatakan di atas normal. Tapi semua percuma, sains yang ku miliki tak ubah menjadi tontonan semata. Ia tak menancap di jiwaku. Aku punya keahlian tapi aku sedang mencari untuk apa aku berilmu. Aku stagnan tak menurun juga meningkat. Kurva yang ku miliki lurus tak berkebalikan ataupun berbanding lurus. Aku hanya mencari satu “untuk apa aku diciptakan”. Aku berteriak keras menjerit di dadaku sendiri sampai aliran darahku mengalir cepat. Paru paruku pengap. Kemudian mataku kabur. Semua gelap
Gelap, kemana bola lampu merah itu. Kenapa tidak ada cahaya. Kemudian aku melihat gelap menjadi merah, kemudian berwarna kuning. Setelah itu berwarna putih. Dan aku melihat hamparan putih itu berubah menjadi tembok dan pintu. Aku juga melihat seorang berdiri di depannya. Aku melihat punggungnya dan tangannya memegang handle pintu. Dia sudah memutarnya tapi dilepasnya karena sebuah ucapan dariku
“aku dimana?” ucapku lirih yang membuat seorang tersebut berbalik arah
“jangan angkat kepalamu. Tidur saja. Masih pusing kan?”
“ehhh” aku memegang kepalaku, mengangkat badanku. Dan bersandar sedikit. Perempuan itu berusaha membantuku. “tak apa kak aku kuat. Kak salma,bukannya ini kamar kakak?” Aku pernah mengunjunginya bahkan sering, dan berkali kali aku menginap dikamarnya ini, pastilah aku sudah hafal tata letak susunan kamar.
“iya dek. Semalam kenapa kamu di taman sendirian? Hujan hujan lagi” wajahnya menggerutu, aku dapat menangkap sinyal darinya. Ia khawatir denganku
“kakiku ingin melangkah kesana kak. Masak tidak aku turuti? hehe” aku tertawa kecil menghangatkan suasana
“kakimu terlalu manja”dia menambah agar tidak setegang ini “ini syal agar hangat. Syalmu kutemukan dalam keadaan basah. Aku tidak ingin kamu masuk angin karena aku tak sanggup membelikan kamu syal pengganti.”tangkasnya sambil tertawa lebar. Aku tersenyum kecil melihatnya. “yuk ke taman belakang rumah, minum teh sama sama. Nanti aku ajak Adam” tambahnya
Mereka tetanggaku. Ketika abang menitipkanku padanya ia tak pernah menolak. Sudah berkali kali abang ke kota menyelesaikan puluhan projek yang dikerjakannya. Dia lebih memilih menitipkaku ke keluarga mereka ketimbang sendirian dengan pisau dan gunting dapur. Mereka memang bukan keluarga kami. Tapi mereka sudah mendarah daging dengan keluarga kami. Tante Ris, Kak Salma, serta Adam tak keberatan jika anggota keluarga mereka mendadak bertambah dalam beberapa hari. Mengungsikan aku yang terlalu mengkhawatirkan jika sendirian.
“Coba jalan sendiri. Manja sekali kakimu. Apa harus di tuntun” canda Kak Salma manambah kehangatan kami
Bak berada pada garden in the sky. Adam mengubah belakang rumah yang mulanya tumbuhan berduri menjadi arena taman dengan bangku melingkar yang hangat untuk bercengkerama. Kami duduk bertiga melingkar. Aku membenahi kerudungku memastikan tidak ada sehelai rambut yang menyangkut di kacamataku.
“Teh kakak memang kurang manis, tapi kalau dek Lila senyum ajaibnya jadi diabetes saking manisnya ini teh” aku tersedak buaian kak Salma begitupun Adam yang sedari tadi menahan tertawa.
“teh manis akan tambah manis lagi kalau ada pisang goreng. Kakak masakin dulu ya.”
Aku melihat kakinya melangkah ke dalam rumah kemudian menghilang di ambang pintu. Tertinggal aku yang membenahi syal berajut dan Adam yang mengetuk ngetuk meja dengan tangannya. Suasana hening, tak bersuara kecuali angin yang dikeluarkan oleh tanaman di taman
“Sedang apa kamu semalam di taman? Aku melihatmu sedang terdiam di kursi. Aku kira kamu menunggu seseorang dan melihat pergerakanmu lama tapi tak bergerak. Aku menghampiri dan kamu memang tidak bergerak. aku menelfon Kak Salma agar menyuruh pak Ujang membawamu ke rumah kami. Aku juga tak mengabari abangmu. Jadi sebelum abangmu tahu ceritakanlah dulu padaku” celoteh Adam mungkin sedari tadi gerutunya tertumpah oleh kata kata ini. Aku terdiam, dan hanya menunduk. “maaf aku terlalu menghujammu dengan pertanyaan menyebalkan”
Aku ingin mengungkap semua Dam. Menceritakan tentang Umi dan Abah dengan pesawatnya dengan hancurnya dan abang yang sibuk. Aku tak tahu lagi untuk apa aku hidup. Mungkin kamu sudah terlalu muntah dengan cerita abangku terhadapmu. Jika kamu bertanya kamu akan mendapat jawaban yang sama. Usia kita hanya terpaut beberapa bulan. Pastilah kamu mengerti keadaanku. Gemerutuku padanya
“jawabannya sama dengan sebelumnya” tangkasku singkat
“bukan hanya aku yang mendengar keluhmu tapi tumbuhan ini juga akan mendengarkanmu” aku makin tak maksud dengan perkataannya.
“abang ingin aku sekolah pertanian di IPB. Dia mendaftarkanku kesana. Dan aku tentu sajalah diterima. Tapi aku tak suka, dia memaksaku. Aku akan mengikuti tes tulis lagi mendaftarkan diri di teknik nuklir. Bom dahsyat akan terhunus di mesin terbang itu. Seperti dulu mereka membawa Umi dan Abah kemudian mereka menghancurkannya” ujarku
“kamu mendengar mereka berbisik? Peganglah, Lil. Kamu akan merasakannya. Dia menyuruhku tapi sama sekali tak menyentuhku. Aku hanya menyentuh daunnya. Sejuk. Daun yang tertetes embun itu menyentuh ujung jariku. Sejuknya mengalir di nadiku seluruh tubuh ini merasakannya kemudian sampai ke otakku. Sejuk menentramkan. Hipnotis apa ini, aku merasa nyaman, mataku yang semula sayu kemudian terbelalak. Aku menyentuhnya lagi, dia membuat pipiku kencang. Ototya terarik ke atas, bibirku menarik senyum meninggalkan lesung pipi
“Apa ini, Dam ?” aku terheran aku bertanya tanya. Takjub dengan keajaiban ini
“Kamu tahu, Lil. Mereka berbicara tapi tak pernah didengar. Mereka berdzikir siang malam. Bahkan tiap waktu, tapi tak pernah didengar siapapun. Jika pikiranmu, sikapmu selaras dengan alam mereka akan mendukungmu. Karena jika kamu berfikir dan mengamalkan apa itu dzikir kamu akan bergaris lurus dengan alam. Jika kamu menentangnya. Kamu juga akan ditentangnya. Kamu akan merasakan ketidaknyamanan seperti alam yang akan menjauhimu. Keadaan keadaan kritis akan menekanmu. Kamu sadar ? jika kamu itu berbeda, Tuhan memberikanm anugrah yang indah. Teruslah menyatu dengan alam, kamu akan merasakan kenyamanan dan kesejukan seperti sekarang ini. dengarkan mereka berbicara.” Katanya tajam menembus apa yang di dalam dada. Aku menitikkan air mata. Seperti sengatan tapi meninggalkan senyuman. Bunga itu telah kembali merekah seperti dulu yang terus tersiram air
“aku.... aku...” aku tergagap. Mungkin dia sudah menangkap dari air mataku
“abangmu banyak cerita. Dia ingin kamu di bogor. Bukan karena ingin mengasingkannmu tapi abangmu ingin menunaikan amanah Abahmu. Kamu tidak akan sendiri karena ada alam yang selalu mendukungmu. Itu adalah amanah dari Abahmu. Bukan orang lain Lila. Percayalah kamu akan baik baik saja disana. Kamu akan menemui banyak keajaiban dari alam. Seperti yang kamu rasakan sekarang ini. Alam akan mengubah keras kepalamu. Dia akan menyejukkan pandanganmu. Mulailah menjadi pewaris alam. Alam itu tidak hanya tanaman dan batu. Manusia manusia di alam. Disana kamu akan bertemu dengan banyak orang dan setiap pertemuan itu adalah jawaban dari pertanyaanmu. Allah akan menuntunmu kepada orang yang tepat. Tanyakanlah apa yang ingin kamu tanyakan. Maka Allah akan menjawab melalui lisan mereka. Jadi jangan takut. Kita sama sama ke IPB. Tujuan kaki kita melangkah akan terjawab disana. Perilah takdir Umi Abah, perihal kamu akan menjadi apa simpanlah dahulu, jejakkan kakimu disana dan rampas semua jawaban yang ingin kamu ketahui dengan ilmu ilmu barumu. Hijrahlah Lil. Allah sudah menyimpan semua jawabanmu disana. Jadi datanglah maka kamu akan mengetahuinya”
Tanganku bergetar buliran bening itu pecah sudah dengan isak. aku menyeka air mata yang sudah tumpah. Kamu benar, Dam. Allah menyimpan sesuatu disana. Aku akan datang membawa pertanyaan yang akan aku tunjukkan pada Alam. Hijrah ke IPB
Salam Alhurri
Setetes air mengenai pipiku. Ditambah lagi tetes dari langit, tentangnya yang berwarna kelabu. Kemudian menyusul tetesan dari pipi yang lain. Kini keduanya berlomba untuk membasahi sekujur pipiku kemudian seluruh kerudungku. Tak khayal warna yang ku kenakan sama rupa dengan mendung kali ini, kelabu. Warna mendung di rintikan hujan, pun dengan mendung rintikan hati yang menjalar ke air mata. Balutan kain menjulur di kepala basah karenya. Dengan syal penghangat
Gerimis ini mengundang dingin. Aku memerlukan kehangatan yang harus mendesakku mencari tangan yang siap ku genggam. Mencari bahu yang siap ku sandarkan. Mencari pundak yang siap basah karena air mataku. Sepasang kaki ini masih berjalan menerobos gerimis di sorotan lampu cahaya yang menyala berwarna merah. dia terus berjalan membawa sang pemilik raga menelusuri jalanan taman kota. Aku pun tak membantah kemana kakiku akan membawa pergi. Dia terus berjalan seirama dengan air mata yang bercampur gerimis turun dari kelabu yang sama.
Aku punya otak tapi aku tak punya akal. Aku punya akal tapi tak bisa bekerja sempurna. Bukan kepintaran yang aku maksud. Aku cukup beradu jika mengenal kepandaian. Angka huruf sudah merunyam di otakku. Tak perlu semua mempermasalahkan aku dapat mengeja perhitungan sains. Semua akan terjawab dengan tepat bahkan aku pun tidak menyangka semua itu berasal darimana. Gen apa yang dibawa Umi sampai kecepatan otakku bisa mengenal ilmiah yang dikatakan di atas normal. Tapi semua percuma, sains yang ku miliki tak ubah menjadi tontonan semata. Ia tak menancap di jiwaku. Aku punya keahlian tapi aku sedang mencari untuk apa aku berilmu. Aku stagnan tak menurun juga meningkat. Kurva yang ku miliki lurus tak berkebalikan ataupun berbanding lurus. Aku hanya mencari satu “untuk apa aku diciptakan”. Aku berteriak keras menjerit di dadaku sendiri sampai aliran darahku mengalir cepat. Paru paruku pengap. Kemudian mataku kabur. Semua gelap
Gelap, kemana bola lampu merah itu. Kenapa tidak ada cahaya. Kemudian aku melihat gelap menjadi merah, kemudian berwarna kuning. Setelah itu berwarna putih. Dan aku melihat hamparan putih itu berubah menjadi tembok dan pintu. Aku juga melihat seorang berdiri di depannya. Aku melihat punggungnya dan tangannya memegang handle pintu. Dia sudah memutarnya tapi dilepasnya karena sebuah ucapan dariku
“aku dimana?” ucapku lirih yang membuat seorang tersebut berbalik arah
“jangan angkat kepalamu. Tidur saja. Masih pusing kan?”
“ehhh” aku memegang kepalaku, mengangkat badanku. Dan bersandar sedikit. Perempuan itu berusaha membantuku. “tak apa kak aku kuat. Kak salma,bukannya ini kamar kakak?” Aku pernah mengunjunginya bahkan sering, dan berkali kali aku menginap dikamarnya ini, pastilah aku sudah hafal tata letak susunan kamar.
“iya dek. Semalam kenapa kamu di taman sendirian? Hujan hujan lagi” wajahnya menggerutu, aku dapat menangkap sinyal darinya. Ia khawatir denganku
“kakiku ingin melangkah kesana kak. Masak tidak aku turuti? hehe” aku tertawa kecil menghangatkan suasana
“kakimu terlalu manja”dia menambah agar tidak setegang ini “ini syal agar hangat. Syalmu kutemukan dalam keadaan basah. Aku tidak ingin kamu masuk angin karena aku tak sanggup membelikan kamu syal pengganti.”tangkasnya sambil tertawa lebar. Aku tersenyum kecil melihatnya. “yuk ke taman belakang rumah, minum teh sama sama. Nanti aku ajak Adam” tambahnya
Mereka tetanggaku. Ketika abang menitipkanku padanya ia tak pernah menolak. Sudah berkali kali abang ke kota menyelesaikan puluhan projek yang dikerjakannya. Dia lebih memilih menitipkaku ke keluarga mereka ketimbang sendirian dengan pisau dan gunting dapur. Mereka memang bukan keluarga kami. Tapi mereka sudah mendarah daging dengan keluarga kami. Tante Ris, Kak Salma, serta Adam tak keberatan jika anggota keluarga mereka mendadak bertambah dalam beberapa hari. Mengungsikan aku yang terlalu mengkhawatirkan jika sendirian.
“Coba jalan sendiri. Manja sekali kakimu. Apa harus di tuntun” canda Kak Salma manambah kehangatan kami
Bak berada pada garden in the sky. Adam mengubah belakang rumah yang mulanya tumbuhan berduri menjadi arena taman dengan bangku melingkar yang hangat untuk bercengkerama. Kami duduk bertiga melingkar. Aku membenahi kerudungku memastikan tidak ada sehelai rambut yang menyangkut di kacamataku.
“Teh kakak memang kurang manis, tapi kalau dek Lila senyum ajaibnya jadi diabetes saking manisnya ini teh” aku tersedak buaian kak Salma begitupun Adam yang sedari tadi menahan tertawa.
“teh manis akan tambah manis lagi kalau ada pisang goreng. Kakak masakin dulu ya.”
Aku melihat kakinya melangkah ke dalam rumah kemudian menghilang di ambang pintu. Tertinggal aku yang membenahi syal berajut dan Adam yang mengetuk ngetuk meja dengan tangannya. Suasana hening, tak bersuara kecuali angin yang dikeluarkan oleh tanaman di taman
“Sedang apa kamu semalam di taman? Aku melihatmu sedang terdiam di kursi. Aku kira kamu menunggu seseorang dan melihat pergerakanmu lama tapi tak bergerak. Aku menghampiri dan kamu memang tidak bergerak. aku menelfon Kak Salma agar menyuruh pak Ujang membawamu ke rumah kami. Aku juga tak mengabari abangmu. Jadi sebelum abangmu tahu ceritakanlah dulu padaku” celoteh Adam mungkin sedari tadi gerutunya tertumpah oleh kata kata ini. Aku terdiam, dan hanya menunduk. “maaf aku terlalu menghujammu dengan pertanyaan menyebalkan”
Aku ingin mengungkap semua Dam. Menceritakan tentang Umi dan Abah dengan pesawatnya dengan hancurnya dan abang yang sibuk. Aku tak tahu lagi untuk apa aku hidup. Mungkin kamu sudah terlalu muntah dengan cerita abangku terhadapmu. Jika kamu bertanya kamu akan mendapat jawaban yang sama. Usia kita hanya terpaut beberapa bulan. Pastilah kamu mengerti keadaanku. Gemerutuku padanya
“jawabannya sama dengan sebelumnya” tangkasku singkat
“bukan hanya aku yang mendengar keluhmu tapi tumbuhan ini juga akan mendengarkanmu” aku makin tak maksud dengan perkataannya.
“abang ingin aku sekolah pertanian di IPB. Dia mendaftarkanku kesana. Dan aku tentu sajalah diterima. Tapi aku tak suka, dia memaksaku. Aku akan mengikuti tes tulis lagi mendaftarkan diri di teknik nuklir. Bom dahsyat akan terhunus di mesin terbang itu. Seperti dulu mereka membawa Umi dan Abah kemudian mereka menghancurkannya” ujarku
“kamu mendengar mereka berbisik? Peganglah, Lil. Kamu akan merasakannya. Dia menyuruhku tapi sama sekali tak menyentuhku. Aku hanya menyentuh daunnya. Sejuk. Daun yang tertetes embun itu menyentuh ujung jariku. Sejuknya mengalir di nadiku seluruh tubuh ini merasakannya kemudian sampai ke otakku. Sejuk menentramkan. Hipnotis apa ini, aku merasa nyaman, mataku yang semula sayu kemudian terbelalak. Aku menyentuhnya lagi, dia membuat pipiku kencang. Ototya terarik ke atas, bibirku menarik senyum meninggalkan lesung pipi
“Apa ini, Dam ?” aku terheran aku bertanya tanya. Takjub dengan keajaiban ini
“Kamu tahu, Lil. Mereka berbicara tapi tak pernah didengar. Mereka berdzikir siang malam. Bahkan tiap waktu, tapi tak pernah didengar siapapun. Jika pikiranmu, sikapmu selaras dengan alam mereka akan mendukungmu. Karena jika kamu berfikir dan mengamalkan apa itu dzikir kamu akan bergaris lurus dengan alam. Jika kamu menentangnya. Kamu juga akan ditentangnya. Kamu akan merasakan ketidaknyamanan seperti alam yang akan menjauhimu. Keadaan keadaan kritis akan menekanmu. Kamu sadar ? jika kamu itu berbeda, Tuhan memberikanm anugrah yang indah. Teruslah menyatu dengan alam, kamu akan merasakan kenyamanan dan kesejukan seperti sekarang ini. dengarkan mereka berbicara.” Katanya tajam menembus apa yang di dalam dada. Aku menitikkan air mata. Seperti sengatan tapi meninggalkan senyuman. Bunga itu telah kembali merekah seperti dulu yang terus tersiram air
“aku.... aku...” aku tergagap. Mungkin dia sudah menangkap dari air mataku
“abangmu banyak cerita. Dia ingin kamu di bogor. Bukan karena ingin mengasingkannmu tapi abangmu ingin menunaikan amanah Abahmu. Kamu tidak akan sendiri karena ada alam yang selalu mendukungmu. Itu adalah amanah dari Abahmu. Bukan orang lain Lila. Percayalah kamu akan baik baik saja disana. Kamu akan menemui banyak keajaiban dari alam. Seperti yang kamu rasakan sekarang ini. Alam akan mengubah keras kepalamu. Dia akan menyejukkan pandanganmu. Mulailah menjadi pewaris alam. Alam itu tidak hanya tanaman dan batu. Manusia manusia di alam. Disana kamu akan bertemu dengan banyak orang dan setiap pertemuan itu adalah jawaban dari pertanyaanmu. Allah akan menuntunmu kepada orang yang tepat. Tanyakanlah apa yang ingin kamu tanyakan. Maka Allah akan menjawab melalui lisan mereka. Jadi jangan takut. Kita sama sama ke IPB. Tujuan kaki kita melangkah akan terjawab disana. Perilah takdir Umi Abah, perihal kamu akan menjadi apa simpanlah dahulu, jejakkan kakimu disana dan rampas semua jawaban yang ingin kamu ketahui dengan ilmu ilmu barumu. Hijrahlah Lil. Allah sudah menyimpan semua jawabanmu disana. Jadi datanglah maka kamu akan mengetahuinya”
Tanganku bergetar buliran bening itu pecah sudah dengan isak. aku menyeka air mata yang sudah tumpah. Kamu benar, Dam. Allah menyimpan sesuatu disana. Aku akan datang membawa pertanyaan yang akan aku tunjukkan pada Alam. Hijrah ke IPB
Salam Alhurri
Komentar
Posting Komentar